Indonesia
Kualat dengan Sumpah Palapa,
Dimana
IPB Kita?
Saya tidak akan memakan buah palapa
hingga Nusantara bersatu di bawah bendera kejayaan Majapahit
(Mahapatih Gajah Mada, Majapahit)
Miris menyaksikan tayangan di televisi
bagaimana Indonesia mengalami krisis politik. Para pejabat Negara dan wakil
rakyat seolah bergiliran berurusan dengan aparat dan lembaga KPK. Korupsi
seolah telah menjadi trend di
kalangan penguasa. Sekarang sudah sangat jelas, siapa saja sebenarnya anak ibu
pertiwi yang durhaka dan tega menkhianati bangsanya sendiri.
Sedih membaca berita di surat kabar
bagaimana Indonesia yang terancam kelaparan karena melambung tingginya harga
sembako . Lantas, pergi kemana lahan pertanian Indonesia yang seluas 13 juta hektare? Hilang kemana lautan Indonesia yang luasnya 5,8 juta km2 itu? Ah, urusan ini
semakin membingungkan saat pemerintah kembali menelorkan kebijakan baru yang
menyerahkan alam Indonesia digarap pihak asing. Memang kebijakan ini masih
bersifat sementara, tetapi pasti akan merugikan Indonesia jangka panjang.
Dampaknya akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti yang bahkan tidak tahu bahwa
kebijakan itu pernah ada di negerinya.
Keterpurukan bangsa ini terlebih karena kemerosotan
kualitas dan kuantitas produksi hasil pertanian. Lemahnya kualitas dan
kuantitas produksi pertanian Indonesia berimbas langsung pada tingkat
kesejahteraan rakyat karena melemahnya ketahanan pangan di Indonesia..
Indonesia yang pada zaman Orde Baru dikenal sebagi negara agraris dan
swasembada pangan terbesar di Asia Tenggara harus melakukan impor pangan
besar-besaran. Data Badan Pusat Statistik Januari-Juni
2011 menyebutkan, impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai
5,36 miliar dolar AS atau setara dengan Rp45 triliun.
Pada sektor perikanan Indonesia juga
melakukan impor besar-besaran. Indonesia impor
produk perikanan sampai 119 ton dari Januari sampai April 2011. Padahal
alokasi anggaran untuk sektor pangan begitu tinggi, tetapi digunakan untuk
mengimpor barang dari luar negeri, bukan untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas produksi di Indonesia.
Jika sudah seperti ini yang bisa kita
lakukan hanyalah bermimpi. Bermimpi kembali ke masa lalu. Masa kejayaan bangsa
ini, yaitu masa Kerajaan Majapahit. Dibawah pemerinahan Hayam Wuruk dan Patih
Gajah Mada, Nusantara berhasil disatukan. Republik Indonesia berdiri di atas
peninggalan Majapahit tersebut.
Majapahit merupakan Negara agraris dan
sekaligus Negara maritim. Ambisi untuk mengendalikan hasil produksi pertanian
di daerah pedalaman dan memaksimalkan kekayaan laut menjadikan nama Majapahit
begitu terkenal di kancah perdagangan
dunia pada masa itu. Komoditas ekspor saat itu adalah beras, lada, garam, kain,
dan burung kakak tua. Majapahit juga terkenal dengan angkatan perangnya yaitu
angkatan laut yang sangat tangguh. Hal ini bisa ditiru dan diterapkan di
Indonesia . Sebab sebagai Negara yang mempunyai lautan luas dan ribuan pulau,
Indonesia sangat rentan infiltrasi asing sehingga dengan mudahnya kekayaan laut
dan hasil pulau dikuasai oleh Negara lain. Percayalah, Indonesia akan lebih
dihormati oleh bangsa lain jika mau menetapkan titik pangkal kekuatan pada
sektor laut. Karena laut dan pulau-pulau yang berserakan di sepanjang bentangan
nusantara ini menyimpan kekayaan alam yang luar biasa tapi bukan untuk kembali
diberikan kepada pihak asing. Julukan Macan Asia yang batal diberikan kepada
Indonesia akan kembali dengan sendirinya jika kita serius memperhatikan potensi
pertanian dan kelautan dengan mengelola bumi sebaik-baiknya menggunakan tangan
sendiri.
Merosotnya Indonesia seperti sekarang
ini juga diakibatkan engannya bercermin pada kerajaan Majapahit. Apalagi sikap
mental pemimpin dan para pejabat di Indonesia yang hanya ingin menikmati
manisnya tahta saja tanpa mau berkorban apa-apa. Hal ini sangat bertolak
belakang dengan Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Patih Gajah Mada. Inilah
contoh pemimpin sejati. Seorang panglima perang yang benar-benar mengabdi
kepada negaranya, bukan berjuang untuk kepentingan dirinya sendiri. Semoga kita
benar-benar bisa belajar tentang arti sebuah pengabdian dan pengorbanan. Semoga
bangsa ini terhindar dari kutukan sumpah itu, karena telah seenaknya menikmati
“buah palapa” di atas penderitaan bangsanya sendiri.
Institut Pertanian menjadi harapan
bangsa ini, merosotnya produksi pertanian di Indonesia menyebabkan berbagai
macam masalah yang mengancam kesejahteraan bangsa Indonesia. IPB yang katanya
Institut Pertanian tertua dan terbaik di Indonesia harusnya mampu mengembangkan
bangsa ini, membangun perlahan untuk kemajuan pertanian Indonesia. IPB yang
katanya melahirkan sarjana pertanian harapan bangsa seharusnya benar-benar
mengabdi masyarakat untuk memajukan pertanian, bukannya melamar kerja dan
melupakan pertanian.
Sesekali saya pernah bermimpi Institut
ini mampu dirasakan kehadirannya oleh masyarakat Indonesia, sesekali IPB
benar-benar menagbdi untuk bangsa ini, sedikit mengabdi untuk kepentingan
bangsa ini, sedikit berjuang untuk kemajuan negeri indah ini, sedikit
menitikkan air mata dan meneteskan setetes darah saja untuk kemajuan pertanian
Indonesia. Namun saat ini, tiada segelintir masyarakatpun yang merasakan
keberadaan institusi pertanian di negeri ini kecuali mahasiswanya.
Mungkin semua orang akan bertanya-tanya
kenapa Indonesia terus impor produk pertanian, dimana IPB kita? Dimana kekayaan
intelektual IPB yang diharapkan bangsa ini.
IPB mengabdi IPB berbakti harus
benar-benar mengabdi.
Dan akhirnya, ini semua hanyalah sebatas mimpi.
Mimpi seorang anak bangsa agar negaranya kembali Berjaya. Memang, kita tidak
akan pernah bisa memutar kembali waktu untuk mengulang masa-masa indah itu.
Tapi Tuhan telah memberikan kebebasan
untuk bisa memulai kembali semuanya dari sekarang, untuk membuat akhir
yang baru, akhir yang lebih indah.
Indonesia harus berubah!
Maka,
Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi…
Mimpi yang besar pula..
Dan mewujudkan untuk merubah semuanya dan menjadi bangsa yang lebih baik.
IPB terus maju
Bersatulah Indonesiaku…
Referensi
http://fpik.ipb.ac.id/Referensi
http://repository.ipb.ac.id






0 comments:
Post a Comment